January 31, 2008
Hidup bersama dengan orang tua tidaklah selamanya mulus-mulus saja, kadang ada kerikil-kerikil kecil dalam sandal, yang membuat langkah kita harus terhenti sejenak untuk membersihkan hati agar berprasangka baik kepada anak maupun kepada orang tua.
Tidak selamanya pendapat kita harus sama dengan keinginan orang tua, karena zaman yang berubah maupun kondisi lingkungan yang berbeda. Namun Hidup dengan orang tua memang banyak nilai positifnya, kita bisa berbagi kesenangan saat tanggal muda dengan makan bersama dengan berbagi sebagian dari gaji yang kita peroleh, dapat memberi perhatian lebih pada orang tua sekaligus sebagai pelindung buat orang tua di saat diperlukan dan merawatnya tatkala sakit.
Doa dan kasih sayang ibu adalah sepanjang masa, karena ibu selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya, untuk itu banyak-banyaklah berbuat baik kepada ibu, banyak bersedekah, bahagiakan Ia, doanya sangat di dengar Allah.
3 Comments |
Artikel |
Permalink
Posted by Hurin Nafisah Al Bachsyin
January 31, 2008
Saya teringat ketika pertama kali masuk kuliah. Masuk paling pagi. Pernah dibilang teman-teman sebagai penjaga kelas hehehe….Tidak pernah satu kalipun absent. Waktu terus berlalu. Pertama, karena suatu hal yang membuat saya tidak masuk kuliah, saya tidak masuk. Mencoba tidak masuk kuliah, ketakutan itu luar biasa saya rasakan. Hari selanjutnya, tidak masuk kuliah lagi karena sakit. Terus saja waktu berjalan. Akhirnya saya mencoba sengaja tidak masuk kuliah karena malas keluar rumah. Dikenal dengan nama “bolos” atau “cabut”. Lama kelamaan kok ternyata bolos itu mengasyikkan bahkan menjadi ketagihan. Masya Allah…Saya benar-benar menikmatinya. Yang tadinya bolos dihantui rasa ketakutan, kini menjadi hal yang biasa. Ketagihan…Oh tidak!! ( Tapi bener kok satu kali coba-coba, pasti ketagihan ^_^)
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Cerita-Cerita |
Permalink
Posted by Hurin Nafisah Al Bachsyin
January 29, 2008
Ibarat sinar mentari
Begitulah kasih ibu
Sepanjang jaman tak akan terbalas
Teruntai begitu indahnya
Diusia yang telah senja
Kau berkenan memanggilnya
Aku rela dalam ridhoMu
Tawakal-ku padaMu
( Begitu lirik lagu yang berjudul “ Kasih Ibu “. Maaf saya lupa siapa yang melantunkan.)
Ibu, dunia penuh cinta. Sejak belum terlahir ke dunia, masih di dalam rahim, seorang ibu begitu menyayangi anaknya. Memberi makan yang bergizi dan senantiasa menjaga kesehatannya untuk si jabang bayi. Kemana-mana dengan susay payah ia berjalan membawa perutnya yang besar sambil berharap kelak anaknya menjadi anak yang sholeh. Di saat melahirkan, seorang ibu bertaruh nyawa agar sang anak dapat lahir dengan selamat. Bahkan apa yang dikatakannya saat itu? Tahukah? Ia berkata, “Selamatkan anakku ya Allah..selamatkan….” Tak pernah ia memikirkan dirinya yang diambang maut, hanya anaknya yang ia doakan. MasyaAllah. Lalu ketika si anak telah lahir, ia masih tetap menyayanginya, bahkan semakin sayang. Ia menyusui sang anak lalu menyapihnya. Setelah besar, ia belum berhenti sampai disitu, ia didik dan bimbing anaknya dalam kebenaran agar kelak ketika ditanya Allah tentang hal itu, ia dengan gembira menjawabnya. Bahkan Rasulullah saw berkata “di telapak kakinyalah terletak surga”.
Malam itu sunyi sepi disertai gerimis hujan. Udaranya sejuk menusuk kalbu. Saya sedang asyik mengerjakan tugas kuliah di depan Laptop sambil mendengarkan lagu nasyid. Tiba-tiba giliran lagu “Kasih Ibu” diputar. Saya jadi teringat ibu. Ibu..ibu begitu saya memanggilnya. Ibu yang selalu saya rindukan setiap pelukan, ciuman dan kasih sayangnya. Dulu sebelum saya melanjutkan kuliah, begitu dekat kasih sayang ibu pada saya. Ibu tidak rela adanya perpisahan dengan anak yang sangat dicintainya. Tangisan pun meledak saat perpisahan itu.
Hatiku gerimis ketika menghayati penuh jiwa lirik lagu itu seperti gerimis hujan di luar sana. Aku membayangkan wajah ibu yang keriput, usianya yang sudah senja, tubuhnya yang lemas namun masih kuat untuk berjalan. Ibu…saya merindukanmu ibu…
Saya hanya sanggup menulis sebagian lirik lagu “ Kasih Ibu “ karena lirik selanjutnya saya tak kuasa menahan deraian airmata.
Bu, seandainya ibu tahu sekarang saya sangat merindukan ibu. Ingin bertemu kembali. Ibu tahu sekarang saya sedang menangis sesegukan. Kapan saya bisa bertemu ibu kembali? Tahun depankah? Disaat lebaran tiba-kah? Oh ibu, waktu yang sangat lama bagi saya menungggu kehadiran ibu. Apakah tahun depan ibu masih bisa bernafas?
Tahukah ibu? Walaupun saya masih bisa mencium wangi ibu, saya merasakan ibu berada di dunia lain. Mana sanggup saya seperti ini terus, ibu. Setiap detik saya ingin merasakan dekapan hangat tubuh ibu. Saya ingin seperti teman-teman lain, yang setiap pulang kuliah disambut senyuman, pelukan hangat dari ibu. Rindu sekali dengan masakan yang ibu buat setiap harinya. Apalagi sambal terasi yang ibu buat. Tidak ada yang bisa menandingi lezatnya masakan ibu. Oh ibu…kemarilah..~ disaat merindukan seorang ibu dipelukanku~
3 Comments |
Cerita-Cerita |
Permalink
Posted by Hurin Nafisah Al Bachsyin
January 29, 2008
Adzan telah dikumandangkan. Waktu Dzuhur tiba. Cepat-cepat saya berlari menuju sebuah masjid dekat kampus. Bawaan di tas saya hari ini berat sekali. Ada Laptop, ada mushaf tercinta yang tidak pernah ketinggalan dibawa, ada beberapa buku kuliah. Semua ada dalam satu tas. Saya terburu-buru mengejar waktu sholat supaya tidak ketinggalan rakaat. Seketika dijalan, saya bertemu teman lama yang dulu satu SMU. Cepika-cepiki..cium pipi kanan dan kiri. Tanya kabar, bertukar nomor handphone. Akhirnya ngobrol sekitar 10 menit. Lalu saya buru-buru melangkahkan kaki ke masjid. Ketidakseimbangan antara badan dan beban yang saya bawa, terjadilah…Bruukk…! Saya jatuh karena tersandung dengan kaki sendiri. Banyak orang yang melihat. Saya langsung berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Rasa malu itu cepat-cepat saya simpan dalam hati.
Sudah pasti saya ketinggalan rakaat. Kemudian saya mengambil wudhu’. Wuzzz…terasa sejuknya…Perempuan sholat di lantai atas. Lalu saya ke lantai atas masjid. Sholat jamaah telah selesai. Saya melihat adakah yang berjamaah lagi? Ternyata ada yang baru sholat berjamaah. Saya mengikuti imam itu. Makmum yang ada di samping saya saat itu sekitar 5 orang.
Rakaat pertama dimulai. Baru pertama kali saya menjadi makmum seperti ini. Setiap gerakannya cepat sekali. Saya tidak tahu seberapa cepatnya imam tersebut membaca bacaan dalam sholat saat itu. Entahlah.
Sholat saat itu benar-benar tidak terasa nikmatnya. Setiap gerakan dimulai dari ruku’ sujud, duduk antara dua sujud sama saja. Cepat sekali. Tidak terasa nikmatnya apa yang dibaca. Makna bacaannya pun tidak sempat dipahami. Tidak terasa nikmatnya kepada siapa saat itu saya berdialog. Tidak terasa nikmatnya menunduk di hadapan Sang Khaliq.
~ Disaat merindukan nikmatnya berdialog dengan-Nya ~
1 Comment |
Cerita-Cerita |
Permalink
Posted by Hurin Nafisah Al Bachsyin
January 29, 2008
Mungkin pengunjung akan bertanya kepada saya kenapa memberi judul blog dengan nama “ Cahaya- Cahaya Bidadari “?
Begini ceritanya, ketika Ramadhan 3 tahun yang lalu, saya mengikuti 10 malam terakhir di sebuah masjid dekat kampus. Sambil menunggu waktu maghrib tiba, saya duduk sendiri di serambi masjid sambil melantunkan Ayat-Ayat Cinta dari Allah. Ayat demi ayat saya lantunkan dengan khusyuk dan berusaha untuk memahami makna Ayat-Ayat Allah itu. Bahkan, saya berusaha bagaimana caranya supaya saya menangis ketika melantunkan perkataan yang langsung dari Allah. Tapi, tetap saja tidak bisa. Sulit sekali. Hingga akhirnya sampailah pada surat Ar Rahman. Bertepatan dengan itu pula, di dalam masjid diputar kaset dengan surat yang sama. Surat itu dibaca dengan merdu sekali. Hingga saya terhanyut mendengarnya. Entah kenapa, saat itu bulu kuduk saya berdiri. Dada saya berdesir hebat. Tak terasa mutiara bening di mata saya meleleh begitu saja. “Ya Allah saya menangis… begitu indahnya Ayat-Ayat Cinta ini…”, begitu gumam saya dalam hati. Saya tidak tahan mendengar lantunan surat itu. Saya tutup sejenak mushaf tercinta karena saya sudah tidak bisa lagi membaca dengan tangisan yang meledak. Saya terus mendengar surat yang diputar dari dalam masjid dengan lelehan airmata. Lalu, saya buka kembali mushaf itu dan saya membaca artinya dalam surat Ar Rahman. Begitu dahsyat!! Tak henti-hentinya saya menangis. Sesegukan malah. Sampailah pada ayat yang mengisahkan tentang bidadari yaitu ayat 56. Memang, di surat-surat sebelumnya seringkali kata “ bidadari” dibicarakan. Tapi, dalam surat Ar Rahman lebih berkesan di hati saya karena kalimat “ Fa biayyi aalai Rabbikuma tukadzibaan ( Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? ) ” berulang-ulang disebut. Artinya bahwa benar-benar Nikmat Tuhan yang manakah yang saya dustakan!!!?? Allah telah memberikan kesempatan kepada wanita yang sholehah untuk menjadi bidadari-bidadari-Nya. Begitu juga kepada saya, Allah memberikan hidayah lewat surat Ar Rahman hingga cahaya bidadari itu sampai ke hati saya. Sejak itulah, ketika saya bertemu dengan kata “ bidadari “, ada sesuatu yang berbeda di hati saya. Sebuah perasaan yang menggelora dan penuh pesona. Seuntai kata yang membuat saya termotivasi menjadi seorang bidadari Allah. Semoga cahaya-cahaya bidadari itu tak hentinya selalu menyinari hati saya.
1 Comment |
Arsip-Qu |
Permalink
Posted by Hurin Nafisah Al Bachsyin
January 29, 2008
Hurin Nafisah Al Bachsyin. Begitu nama Author blog yang berjudul “ Cahaya-Cahaya Bidadari ” ini. Hurin dalam bahasa Arab berarti bidadari. Nafisah bermakna yang cantik, yang pintar, yang berharga, yang mempunyai harga diri, yang kaya. Al Bachsyin sebenarnya diambil dari dua nama yaitu Ali dan Bachsyin. Ali diambil dari nama belakang bapak saya. Sedangkan Bachsyin adalah sebuah marga untuk orang Arab, yang diambil dari marga kakek ( dari bapak ) saya yang masih keturunan Arab. Kemudian saya singkat menjadi Al Bachsyin. Jadilah nama pena saya Hurin Nafisah Al Bachsyin yang apabila diartikan secara keseluruhan adalah bidadari yang cantik, bidadari yang pintar, bidadari yang berharga…dst. Memang benar, panggilan untuk kita adalah doa untuk kita pula. Semoga Allah menjadikan pemilik nama ini sesuai dengan artinya. Allahumma amin..
Studi saya saat ini masih menjabat sebagai mahasiswi Universitas Gunadarma jurusan Teknik Informatika angkatan 2004 yang beberapa bulan lagi sudah semester akhir. Minta doanya supaya cepat lulus.. =) Ya Allah…Engkau Maha Tahu apa yang hamba inginkan. Engkau Maha Tahu apa yang hamba harapkan. Hamba ingin menjadi muslimah yang kaffah. Tapi apakah hamba mampu membuat bidadari-bidadari itu cemburu? Ya Rabb bantulah aku membuat para bidadari itu cemburu…karena menjadi seorang bidadari itu ternyata mahal sekali…
1 Comment |
Arsip-Qu |
Permalink
Posted by Hurin Nafisah Al Bachsyin