Menuntut Ilmu Tak Kenal Usia

               Sejak tiga bulan terakhir, awal semester tiga aku harus memutuskan suatu keputusan yang berat. Aku cuti untuk kuliah. Tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan kuliah. Faktor ekonomi yang memaksaku mengambil keputusan ini. Bagaimana tidak, ibu sebagai pembantu rumah tangga dan penghasilan sebulan dihabiskan untuk membiayai ayah yang sedang sakit-sakitan. Kakak menjadi kuli bangunan. Aku harus bisa mencari penghasilan sendiri demi masa depanku kelak. Aku hanya bisa mencari penghasilan hidup dengan mengajar di sebuah TK walaupun gaji yang aku dapat sangat kecil. Untuk menambah penghasilan aku mengajar privat. Inilah salah satu harapanku untuk bisa menuntut ilmu lagi.  

               Dari rumah ke rumah yang jaraknya lumayan jauh aku jalani dengan mengayuh sebuah sepeda mini pemberian ayah lima tahun yang lalu. Tanpa rasa malu aku terus melaju dengan kayuhan sepeda mini yang sudah tua. Terik matahari yang panasnya seperti di atas kepala tak aku hiraukan demi menggapai impianku menuntut ilmu. Seringkali di jalan aku mendengar celetukan dari orang-orang.’’ Hari gini masih pakai sepeda ??!!  Ga  jaman lagi euy… !! ‘’Ada juga yang berceletuk.’’ Duih…cantik-cantik pakai sepeda. Apa ga takut hitam tuh kulitnya..!!!’’Ada saja yang mereka katakan. Aku menepis celetukan itu dengan senyuman manis. Memang, pekerjaan ini berat untuk seusiaku yang baru beranjak sembilan belas tahun. Walaupun setiap keringat ini mengalir deras, aku tetap berusaha. 

                                                    ***

               Rembulan cahaya nan cemerlang malam ini seakan mengerti dengan keadaanku. Rembulan itu menatapku sedih. Disertai suasana gerimis hujan menambah kesedihan yang mendalam di hatiku. Sambil menatap rembulan di balik jendela, aku terus saja merenungkan nasib masa depanku kelak. Entah apa yang akan terjadi hari esok. Aku hanya berharap bisa menuntut ilmu lagi. Setetes demi setetes butiran mutiara berjatuhan di pipiku. Kuusap dengan jilbab merah jambu yang aku kenakan sehabis pulang dari mengajar privat di rumah tetangga yang letaknya sepuluh rumah ke kanan dari rumahku. Hampir saja semua bagian depan jilbabku berubah warna  karena butiran mutiara yang tak henti-hentinya membasahi pipiku. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Aku harus bangkit. Aku pasti bisa menuntut ilmu walaupun usiaku sudah tua. Itupun kalau aku masih diberi nafas oleh Allah. Begitu untaian kalimat yang bisa menjadikan motivasi hidupku untuk bisa kuliah lagi.

              Tiba-tiba handphone bututku berdering tanda sms masuk. Aku bergegas mengambil handphone di dalam tas. Baru saja aku membuka inbox-nya, sms baru datang lagi. Begitu seterusnya hingga ada empat sms yang masuk sekaligus. “Ada apa ini?”, begitu gumamku dalam hati.Sms pertama dari sahabat seperjuangan sebagai aktifis dakwah kampus, Farrah. Ia sahabat dekat diantara sahabat yang lain.’’ Assalamu’alaikum..Ukhti sayang apa kabar ? Kemana saja kok tidak kelihatan ? Sibuk mengajar privat ya? Aku kangen sekali…Tetap semangat ya!!”Sms kedua dari teman sekelasku, Dina.“ Assalamu’alaikum…Lubnah apa kabar nih? Kenapa tidak masuk-masuk kelas sih? Jangan bolos terus nanti nilainya jadi jelek loooh…Yaah di kelas teman-teman mengeluh karena tidak ada orang yang bisa dicotekin kalau ada tugas. Hehehe…”Sms ketiga dari sahabat seperjuangan lagi. Kali ini dari ketua, Ikhsan.“Assalamu’alaikum..Ukhti, kaifa haluki? Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah untuk menjalankan dakwah di kampus ini. Jangan sampai dakwah ini terhenti karena kesibukan yang kita alami. Tetap SEMANGAT dan tingkatkan Ruhiyah kita.“Sms keempat dari sahabat seperjuangan lagi, Siska.“Assalamu’alaikum..Ibarat membangun sebuah bangunan, jika ada satu bahan bangunan tidak ada maka bangunan itu bisa dibangun tetapi tidak sekokoh bangunan yang lengkap bahannya. Itulah kekuatan ukhuwah kita. Ukhuwah ini harus kokoh apabila ingin dakwah ini kokoh “   

               Sedih sekali rasanya hatiku. Aku tak kuasa menahan sakitnya dada ini dan seketika itu aku menangis di atas ranjang. Airmata tanda cinta membasahi pipiku. Gerimis hujan masih meramaikan suara di luar rumah. Begitu banyak yang perhatian padaku. Dari sms yang aku terima bisa disimpulkan, sepertinya ada yang sudah tahu bahwa aku cuti kuliah dan ada juga yang belum tahu sama sekali. Aku juga tidak tahu darimana mereka tahu. Farrah sebagai sahabat dekatku pun tidak mengetahui hal ini. Mungkin mereka bisa menyimpulkan sendiri. Ingin aku membalas sms dari mereka, tapi saldo pulsa yang ada di handphone hanya cukup membalas satu kali sms. Itupun satu operator. Karena aku satu operator dengan Farrah, dengan linangan airmata aku membalas smsnya.“ Wa’alaikumsalam…Alhamdulillah sampai detik ini aku sehat. Iya nih untuk saat ini aku sibuk mengajar jadi belum sempat bersilaturahim ke Sekret. Afwan pulsa terakhir. Salam buat sahabat yang lain ya… Demi Allah, aku mencintai kalian karena Allah.“

               Sekret adalah tempat kami berkumpul, bercanda, membicarakan masalah politik kampus, tilawah bersama.

              Handphone-ku kembali berdering tanda telepon masuk. Farrah menelponku. Besok ia mengajakku bertemu di kampus tepatnya di masjid pukul sepuluh pagi. Sekedar temu kangen, silaturahim dan ada yang mau dibicarakan. 

                             *** 

               Sekitar sepuluh menit berlalu Farrah belum datang juga. Sambil menunggu, aku sempatkan untuk melantunkan ayat-ayat cinta dari Allah. Paling tidak satu halaman. Linangan airmata jatuh ke pipi ketika ayat demi ayat dilantunkan dengan penuh penghayatan dalam hati. Begitu indahnya perkataan Allah. Begitu hinanya diri ini di hadapan-Nya.  

              Usai melantunkan ayat-ayat cinta itu, kututup dan kucium penuh cinta mushaf tercinta dengan hati rindu kepadanya untuk melantunkan kembali sehingga aku bisa bermunajat kepada Allah. Tak lupa aku berdoa dengan penuh pengharapan. Sebagaimana yang Baginda Rasulullah ajarkan setelah membaca Al Quran untuk senantiasa berdoa karena saat itu termasuk doa yang dikabulkan. Tak terasa airmata terus membasahi pipi dan jilbabku. Meleleh begitu saja.

               Tak lama kemudian, dari kejauhan aku melihat bayangan seorang wanita berbalut pakaian muslimah. Jubah biru tua dipadukan dengan jilbab biru muda sangat cocok sekali dikenakan wanita yang berkulit putih bersih. Cara jalan wanita itu sudah bisa aku tebak bahwa wanita itu adalah Farrah. Cepat-cepat aku mengusap airmata di pipi.

               Semakin dekat. Farrah langsung menyambutku dengan salam, tanya kabar dan pelukan hangat. Pelukannya erat sekali seakan tidak mau berpisah denganku. Terlihat dari matanya yang bening ada linangan airmata yang ingin jatuh. Akhirnya terjadilah perbincangan di antara kami.“ Lubnah, kau tampak kurus sekali sekarang ? Mengapa matamu bengkak? Capek ya jadi pengajar ? Jangan sampai karena ketagihan menjadi pengajar dengan gaji yang lumayan, kuliahmu jadi terabaikan. Sayang kalau putus tengah jalan.”

Aku hanya tersenyum. Padahal hati ini menangis. Farrah belum tahu keadaanku yang sebenarnya.

“ Oh iya Lubnah, teman-teman aktifis sering menanyakan keadaanmu. Lalu aku bilang saja kau sibuk mengajar.”

Aku hanya mendengarkan apa yang dibicarakan Farrah. Aku tidak berani bicara karena aku khawatir nanti Farrah tahu keadaanku. Aku tidak mau merepotkan banyak orang. Tapi akhirnya aku tidak kuasa menahan butiran mutiara di mata. Akupun menangis. Farrah terkejut melihatku. ’’ Lubnah..afwan ada yang salah dengan kata-kataku sehingga membuatmu menangis?’’

Aku mulai bicara.’’Tidak..tidak..kau tidak salah. Aku yang salah karena tidak menceritakan keadaanku sebenarnya. Ada yang aku sembunyikan darimu. Sebenarnya aku bukan sengaja mencari uang, tapi membanting tulang supaya aku bisa meneruskan masa depanku. Aku cuti kuliah karena aku mencari uang dengan mengajar.”“ Mungkin orang berpikir aku berhenti kuliah karena ingin mendapatkan uang saja. Tidak! Aku ingin kuliah tapi tidak ada biaya yang mencukupi. Hingga akhirnya aku mengajar untuk mengumpulkan uang demi masa depanku. Asalkan tahu gaji yang aku peroleh tidaklah seperti yang orang bayangkan, hanya seratus ribu perbulan. Jaman sekarang buat apa uang seratus ribu? Jikalau pun dikumpulkan entah kapan aku bisa kuliah lagi atau selamanya aku tidak bisa kuliah.”

“ Capek..Capek sekali menghadapi hidup seperti ini. Dari SMP aku mengajar hanya untuk mendapatkan uang dengan mengayuh sepeda dengan jarak yang jauh. Kepanasan, kadangkala aku harus menahan lapar dengan mengikat tali pinggang di perut. Tapi aku ingat bahwa Allah ada di dekatku. Allah memberi kekuatan kepadaku hingga saat ini aku masih bisa bertahan.” 

“ Orang sering melihatku tersenyum ,tertawa, ceria tetapi hatiku saat itu menangis. Aku berusaha menghilangkan kesedihanku dengan cara seperti itu.”“ Jujur aku iri sekali melihat teman-teman yang bisa kuliah. Bersyukurlah kalian yang masih bisa kuliah. Masa depannya sudah terjamin.”

“ Oh ya, satu lagi. Tapi ini serius. Farrah, bulan depan aku akan menikah dengan laki-laki shaleh. Namanya Zahir. Aku dijodohkan oleh paman. Walaupun usiaku masih muda, Insya Allah aku rela aku menjadi milik orang.”

Farrah terkejut dan memelukku. Aku menangis sesegukan di pundaknya. Farrah ikut menangis. “ Astaghfirullaaah…Maaf ya Lubnah karena perkataanku tadi telah menyinggung perasaanmu. Lubnah sayang, yakinlah suatu saat nanti kau pasti bisa kuliah. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang jikalau bukan orang itu sendiri yang mengubahnya. Bukankah begitu Allah berfirman ? Semangatmu begitu menggelora. Perjuanganmu luar biasa. Aku malu dengan diriku sendiri.”

’’Mmm..Lubnah, kalau boleh aku tahu kenapa kau mengambil keputusan ingin cepat-cepat menikah ? Bukankah seusia kita belum terpikir untuk kearah itu ? Aku menjelaskan kepada Farrah alasan aku harus menerima tawaran dari paman dan mengambil keputusan untuk menikah. Selain ingin menyempurnakan setengah agama, aku katakan padanya aku menikah karena untuk mengurangi beban ekonomi keluarga. Mungkin dengan menikah, nanti aku bisa kuliah. Farrah memberikan semangat kepadaku. Setiap kalimat yang diucapkannya mempunyai makna yang mendalam. Sebagai sahabat seharusnya memang seperti itu. Jiwaku kembali semangat dan menggelora. 

                           ***

             Waktu terus berputar. Pernikahan yang telah aku jalin selama dua puluh lima tahun melahirkan generasi pemuda-pemudi penerus dakwah. Pernikahanku semakin mesra dan rasa cinta kepada Zahir semakin sayang. Karena ia, aku bisa hidup bahagia dengannya dan membuahkan tiga orang anak. Satu laki-laki dan dua orang perempuan.  Perjuangan aku dan Zahir mengumpulkan uang mampu membiayai ketiga anakku hingga lulus kuliah. Biarlah mereka yang merasakan manisnya bisa menuntut ilmu. Kini Zahir mewujudkan impianku yang selama ini tertunda. Aku kuliah lagi.           

               Sore itu, kami bercengkrama di ruang tamu. Secangkir teh hangat dan sepiring kue putu menambah kenikmatan suasana.

“ Ibu dikelas gimana? Paling tua sendiri dong?!”, celetuk anak laki-lakiku.“ Ya iyalah…usia ibu saja sudah tiga puluh lima tahun, pasti paling tua.”, cetus salah satu anak perempuanku.Ketiga anakku tertawa terbahak-bahak. Pipiku memerah. Aku berusaha membela diri.’’Tapi kan ibu baru tiga puluh lima tahun. Masih muda kan? Tidak ada salahnya kan kalau ibu kuliah lagi? Kan menuntut ilmu itu tak harus semasa muda. Masih banyak kok meskipun sudah tua tapi masih kuliah. Ibu juga tidak mau kalah dengan kalian. Kalian semua telah menjadi sarjana, ibu juga ingin seperti kalian mencicipi manisnya mendapat gelar menjadi seorang sarjana. ”

“ Ibu tidak malu kalau dibilang paling tua. Yang penting ibu bisa menjadi sarjana. Malahan teman-teman di kelas sudah ibu anggap seperti anak sendiri. Mereka tak kalah semangat ketika mengetahui semangat ibu untuk kuliah. ’’Zahir merangkulkan tangannya kepundakku dan berkata.’’Ibu kalian hebat ! Tak pernah mengenal lelah dan terus berjuang hingga cita-citanya terwujud. Tak pernah malu untuk menuntut ilmu. Usia pun bukan menjadi penghalang untuk meneruskan impiannya. Ibu adalah contoh terbaik untuk kalian. Ayah bangga memiliki istri seperti ibu kalian.”Tak peduli di depan anak-anak, Zahir menunjukkan kemesraan itu. Zahir mengecup pipi kananku dengan penuh cinta. Pipiku kembali memerah. Anak-anak tersenyum geli melihat kemesraan ayah dan ibunya yang tidak diduga-duga. Suasana sore itu memancarkan keceriaan dan kasih sayang.  

One Response to “Menuntut Ilmu Tak Kenal Usia”

  1. renonku Says:

    itu cerpen siapa yang bikin??? decha???
    ko gak ada authornya?? :D

Leave a Reply