Dzolimkah Aku ?

March 27, 2008

Kini saatnya aku bertemu dengan waktu itu. Seperti ketika aku mengalaminya satu tahun yang lalu. Bahkan ini pastinya akan lebih berat. Malam-malamku selalu kuhadapkan dengan kompe yang selalu setia menemaniku dan alunan syair nasyid haroki sebagai penyemangat. Memang etrkadang mata ini tak kuasa menahan perihnya cahaya radiasi kompe yang langsung menyorot ke bagian retina mataku sambil sejenak berfikir. Terus saja aku tempuh hingga waktu tidurku disulap seperti waktu ketika orang-orang sedang asyik berduaan dengan Rabbnya, bercengkrama. Ya, seperti waktu sholat malam. Pastinya sangat lelah. Kini waktu tidur itu hanya sejalan dengan waktu kedipan mata. Puji syukur kepada Allah karena aku masih diizinkan untuk melakukan sholat malam walaupun hanya beberapa rakaat saja. Memang jasad ini terasa lelah, letih. Mungkin kalau aku bisa mendengar jeritan jasad ini, ia akan berkata ” wahai jiwa…tenangkanlah hatimu.ajaklah aku untuk sejenak berbaring menikmati empuknya kasurmu dalam kelelapan tidur yang sangat, aku perlu energi, kekuatan untuk membangkitkan dirimu. Kau boleh memakaiku sesukamu, namun tolonglah aku. Aku juga punya hak untuk sejenak istirahat”

Ya Allah dzolimkah aku?

Dan jika otakku bisa berteriak ” wahai insan, aku ini ciptaan Allah juga. Kau tidak boleh seenaknya memperlakukan aku semaumu. Akulah yang membantumu untuk berfikir sebagai memory storage. Tapi, kau tidak boleh seperti ini…mendzolimi aku, anggota tubuhmu yang lain, dan dirimu. Bantulah aku seperti aku membantumu agar aku bisa melaksanakan tugasku lagi… Kita ini harus balance..

Ya Rabbi…dzolimkah aku terhadap jasadku?

Oh jasadku, mulai saat ini aku akan mencintaimu, menjagamu dengan baik.

Bantulah aku ya Rabb agar aku tidak termasuk orang yang mendzolimi diri sendiri

~ saat jiwa ini lelah dengan banyaknya tugas akademik~


Salam Rindu dari Rasulullah untuk Mujahid dan Mujahidah

March 14, 2008

Lama sekali aku menunggumu, kau bilang akan segera datang. Ayolah segera….wahai mujahid-mujahid Allah, waktumu hampir habis!!! Aku menunggumu dipintu ini tak berhitung waktu, tak berhitung detik, tak berhitung jam. Tapi…..berhitung waktupun tampaknya bakal jadi terlalu sebentar untuk sebuah penantian bagimu. Entahlah aku yang terlalu sabar atau kau yang terlalu terlambat datang???!!!           

 Aku menantimu lama sekali disini. Sebenarnya segera pergi batalkan janji denganmu. Tidak, aku tidak mau tergolong orang yang tidak tepat janji. Aku seorang mukmin.

Kau tahu kenapa aku tetap menantimu walau entah kapan kita bertemu???? Karena kau selalu titip salam untukku dan kau selalu mendoakanku, kau juga sering membuatku bangun untuk sekedar menjawab salammu. Walau kadang hanya dilisan saja ternyata namaku tertaut dilidahmu. Lumayan, kau masih ingat padaku.  

Kau tahu kenapa aku tetap menunggumu walau entah kapan kau tepati janjimu untuk datang??? Karena ada yang bilang aku akan kedatangan orang-orang yang bisa membuatku bangga! Mereka orang-orang yang berteriak lantang memperjuangkan ketauhidan!!! Orang-orang yang menyebarkan kebaikan dan manfaat!!! Orang-orang baik penerus risalahku!!! Orang-orang kebanggaanku!!!Aku menantimu lamaaaaaaaaa sekali……., mujahid……. 

Aku membayangkan derap langkahmu menghentak berirama menguak seluruh alam semesta. Membayangkan wajah-wajah bercahaya yang menerangi alam ini. Wajah-wajah kebanggan yang aku rindukan teramat dalam……  

Aku lama sekali menanti, masa penuh kerinduan menantimu………. Mujahid…….. Kebanggaanku!!!!!!!!!!!! 

Dihari perjumpaan

 Pintu itu akan dibukaNya!!! Pintu pembatas perjumpaan kita!!! Sungguh saat-saat yang kunantikan….. Mujahid…….           

Aku sigap ‘berdiri’ menantimu dengan senyum penuh kerinduan. Aku siap memelukmu, aku siap menyambut kedatanganmu. Aku siap, wahai orang-orang kebanggaan!!!! Lihat, disini ada orang-orang yang pasti kau kenal!!! Ada Abu Bakar yang lemah lembut, ada Umar yang ditakuti syaiton, ada Utsman si kaya yang sangat dermawan, ada Ali sepupuku yang gagah dan cerdas, ada Bilal si suara indah pengumandang adzan, ada Sumayyah sang syahidah pertama, ada istriku yang tercinta Khodijah, ada Kholid yang perkasa, ada………. Ada banyak yang menantimu dengan senyum kerinduan dan hati bergejolak tak menentu……. Ada aku, Muhammad yang merindukanmu……

Derap langkahmu yang amat kunantikan mulai terdengar. Hati ini semakin membuncah karena harapan yang sangat. Aku rinduuuuuu…… sekali padamu……. Pada kalian………

Wahai…….. mengapa lambat langkahmu terasa????? Aku tak sabar menyambutmu!!!

Apa???!!! Kenapa derap langkah itu lemah sekali….. dan tidak terlihat terang seperti janjiNya!!! Apa yang terjadi denganmu wahai mujahid tercinta???? Ayo bersegeralah, ini aku Muhammad bin Abdullah menantimu penuh kerinduan….mengapa pekat sekali barisanmu???!!! Tiada nur???!!! Mengapa menunduk semua wajahmu??!!! Tidakkah kalian rindu padaku???!!! Ini aku…… Muhammad……..

Apa????!!!! Mengapa kalian berbelok kesana???!!! Wahai para du’at, disini barisan para du’at terdahulu!!! Bergabunglah dengan kami!!! Kami menantimu!!!!           

Jangan…….. Tolong jangan berbelok kesana…..bergabunglah bersama  kami!!!! Mengapa hanya sebagian kecil darimu yang bercahaya dan bergabung dengan kami. Mengapa kalian bergabung dengan barisan orang-orang hitam pekat???!!! Apakah kalian tak rindu padaku???? Lihat….lihat….. Abu Bakar menangis melihatmu disana….. Aku tahu kerinduannya sedalam rinduku pada kalian. Lihat ada Umar, Utsman, Ali, Khalid, Usamah, Zaid, ada……..yang semuanya merindukanmu. Ayo…….kemarilah para pejuang yang kucinta………. Apa yang menyebabkanmu berbaris dengan mereka??!!! Golongan pendurhaka.           

Apa???!!! Mujahidku aku lama menantimu…. Pertemuan seperti inikah yang kau dapatkan???!!! Aku ingin membanggakanmu pada semua makhluk yang pernah tercipta!!! Aku ingin malaikat-malaikat menggemakan namamu. Kalau kau cinta padaku, kenapa kau tidak membuatku bangga??? Aku ingin berjalan bersamamu menuju jannahNya, bersama menyaksikan saat-saat Ia membuka tabir penutup ‘Wajah’Nya…… Wajah kekasih tercinta…….Kuingin engkau ada dalam barisanku…. Barisan para nabi dan mukhlisin….Barisan orang-orang mukmin……           

Suaraku serak memilu, kerinduan dan harapan tak terpenuhi. Aku ingin membanggakanmu….Wahai yang kucinta….

Ummatii…ummatii…ummatii…


Mampukah Aku Menjadi Wanita Sholihah?

March 7, 2008

Mampukah aku menjadi seperti Siti Khatijah?
Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah
Hartanya diperjuangkan ke jalan fi sabilillah
Penawar hati kekasih Allah
Susah dan senang rela bersama…

Dapatkah ku didik jiwa seperti Siti Aishah?
Isteri Rasulullah yang bijak
Pendorong kesusahan dan penderitaan
Tiada sukar untuk dilaksanakan…

Mengalir air mataku
Melihat pegorbanan puteri solehah Siti Fatimah
Akur dalam setiap perintah
Taat dengan ayahnya, yang sentiasa berjuang
Tiada memiliki harta dunia
Layaklah dia sebagai wanita penghulu syurga…

Ketika aku marah
Inginku intip serpihan sabar
Dari catatan hidup Siti Sarah….

Tabah jiwaku
Setabah umi Nabi Ismail
Mengendong bayinya yang masih merah
Mencari air penghilang dahaga
Diterik padang pasir merak
Ditinggalkan suami akur tanpa bantah
Pengharapannya hanya pada Allah
Itulah wanita Siti Hajar….

Mampukah aku menjadi wanita solehah?
Mati dalam keunggulan iman
Bersinar indah, harum tersebar
Bagai wanginya pusara Masyitah…


Tambah satu lagi…^_^

March 1, 2008

Benar ya kata orang kalo ada manusia mungil yang baru lahir, Seneeeeeengnya….apalagi orang tuanya…
Ketika ia lahir kedunia menangis, kita disini tersenyum…
walaupun bukan orangtuanya, Hari ini saya seneng banget!! Tambah satu lagi ponakan…jadi tiga deh… Kali ini ponakannya seorang calon mujahid. Subhanallah…!!!

Mmm..jadi pengen pulang ke kampung…Mau liat..pasti lucu banget!!!
Ck..ck..ck..anak kecil itu memang lucu, menggemaskan. Pengennya dicubit-cubit aja tuh pipinya…
gemeezzz…iiiiihh..

Kalo ponakan yang laki-laki…pengennya diajak berantem aja…hahahaha..pasti lucu deh…
Insya Allah nanti bertambah lagi calon ponakan. Tinggal menunggu waktu saja. Jadi tambah satu lagi deeeeeeeeh…Uaaaassiiik…jadi banyak anak2…pasti nanti rame..!!! Semoga mereka yang baru terlahir ke dunia menjadi penerus dakwah kita…Allahumma amiin…


Dag..Dig..Dug…

March 1, 2008

Jika diingat-ingat masa lalu, rasanya baru saja saya menginjak kampus ini. Tapi sekarang tak terasa sudah semester 8. Semakin hari waktu terus berjalan dan hingga akhirnya mau tidak mau nantinya pasti akan meninggalkan kampus tercinta ini. Banyak suka dan duka dikelas…

Ketika nlai sudah keluar, jadi dag…dig…dug…!!! Ada rasa senang, ada juga rasa kekhawatiran.
Mau gimana lagi? mau tidak mau harus ngambil skripsi…huuufffh…dag…dig…dug…abis bingung mau bikin apa???

Tapi berkat dorongan teman2, saya jadi semangat lagee..!!
Emang, semua itu sudah ada yang ngatur..siapa lagi kalo bukan Allah.
ada yang bilang ” kita semua sudah diatur begini begitu karena ya memang jalan hidup kita ditakdirkan seperti ini karena Allah memampukan decha bisa menjalankan skripsi ini. Coba, kalo misalkan saya ( temen saya ) yang diberikan skripsi, apa jadinya? Apakah saya sanggup? Belum tentu..makanya decha yang dikasih…”

Subhanallah…!!
Tiba2 HP saya berbunyi tanda SMS masuk, dari teman seperjuangan. Kurang lebih begini isinya :
” Dari kemarin bingung mau ngambil 3 mata kuliah atau tidak. Kenapa bingung??? Aku kan masih punya Allah..Sholat istikhoroh aja ya…”

Yups!! satu2nya jalan adalah dengan Sholat istikhoroh..minta petunjuk dari Allah..
Dibalik itu juga saya benar2 dag…dig…dug…mau ngomong sama Allah apakah pantas??
ketika ada masalah seperti ini, saya baru minta tolong…mengemis…

Astaghfirullah….
wallahu a’lam…