Tentang Blog

January 29, 2008
Mungkin pengunjung akan bertanya kepada saya kenapa memberi judul blog dengan nama “ Cahaya- Cahaya Bidadari “?
Begini ceritanya, ketika Ramadhan 3 tahun yang lalu, saya mengikuti 10 malam terakhir di sebuah masjid dekat kampus. Sambil menunggu waktu maghrib tiba, saya duduk sendiri di serambi masjid sambil melantunkan Ayat-Ayat Cinta dari Allah. Ayat demi ayat saya lantunkan dengan khusyuk dan berusaha untuk memahami makna Ayat-Ayat Allah itu. Bahkan, saya berusaha bagaimana caranya supaya saya menangis ketika melantunkan perkataan yang langsung dari Allah. Tapi, tetap saja tidak bisa. Sulit sekali. Hingga akhirnya sampailah pada surat Ar Rahman. Bertepatan dengan itu pula, di dalam masjid diputar kaset dengan surat yang sama. Surat itu dibaca dengan merdu sekali. Hingga saya terhanyut mendengarnya. Entah kenapa, saat itu bulu kuduk saya berdiri. Dada saya berdesir hebat. Tak terasa mutiara bening di mata saya meleleh begitu saja. “Ya Allah saya menangis… begitu indahnya Ayat-Ayat Cinta ini…”, begitu gumam saya dalam hati. Saya tidak tahan mendengar lantunan surat itu. Saya tutup sejenak mushaf tercinta karena saya sudah tidak bisa lagi membaca dengan tangisan yang meledak. Saya terus mendengar surat yang diputar dari dalam masjid dengan lelehan airmata. Lalu, saya buka kembali mushaf itu dan saya membaca artinya dalam surat Ar Rahman. Begitu dahsyat!! Tak henti-hentinya saya menangis. Sesegukan malah. Sampailah pada ayat yang mengisahkan tentang bidadari yaitu ayat 56. Memang, di surat-surat sebelumnya seringkali kata “ bidadari” dibicarakan. Tapi, dalam surat Ar Rahman lebih berkesan di hati saya karena kalimat “ Fa biayyi aalai Rabbikuma tukadzibaan ( Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? ) ” berulang-ulang disebut. Artinya bahwa benar-benar Nikmat Tuhan yang manakah yang saya dustakan!!!?? Allah telah memberikan kesempatan kepada wanita yang sholehah untuk menjadi bidadari-bidadari-Nya. Begitu juga kepada saya, Allah memberikan hidayah lewat surat Ar Rahman hingga cahaya bidadari itu sampai ke hati saya. Sejak itulah, ketika saya bertemu dengan kata “ bidadari “, ada sesuatu yang berbeda di hati saya. Sebuah perasaan yang menggelora dan penuh pesona. Seuntai kata yang membuat saya termotivasi menjadi seorang bidadari Allah. Semoga cahaya-cahaya bidadari itu tak hentinya selalu menyinari hati saya.

Profile Saya

January 29, 2008

Hurin Nafisah Al Bachsyin. Begitu nama Author blog yang berjudul “ Cahaya-Cahaya Bidadari ” ini. Hurin dalam bahasa Arab berarti bidadari. Nafisah bermakna yang cantik, yang pintar, yang berharga, yang mempunyai harga diri, yang kaya. Al Bachsyin sebenarnya diambil dari dua nama yaitu Ali dan Bachsyin. Ali diambil dari nama belakang bapak saya. Sedangkan Bachsyin adalah sebuah marga untuk orang Arab, yang diambil dari marga kakek ( dari bapak ) saya yang masih keturunan Arab. Kemudian saya singkat menjadi Al Bachsyin. Jadilah nama pena saya Hurin Nafisah Al Bachsyin yang apabila diartikan secara keseluruhan adalah bidadari yang cantik, bidadari yang pintar, bidadari yang berharga…dst. Memang benar, panggilan untuk kita adalah doa untuk kita pula. Semoga Allah menjadikan pemilik nama ini sesuai dengan artinya. Allahumma amin..

Studi saya saat ini masih menjabat sebagai mahasiswi Universitas Gunadarma jurusan Teknik Informatika angkatan 2004  yang beberapa bulan lagi sudah semester akhir. Minta doanya supaya cepat lulus.. =)  Ya Allah…Engkau Maha Tahu apa yang hamba inginkan. Engkau Maha Tahu apa yang hamba harapkan. Hamba ingin menjadi muslimah yang kaffah. Tapi apakah hamba mampu membuat bidadari-bidadari itu cemburu? Ya Rabb bantulah aku membuat para bidadari itu cemburu…karena menjadi seorang bidadari itu ternyata mahal sekali…