Salam Rindu dari Rasulullah untuk Mujahid dan Mujahidah

March 14, 2008

Lama sekali aku menunggumu, kau bilang akan segera datang. Ayolah segera….wahai mujahid-mujahid Allah, waktumu hampir habis!!! Aku menunggumu dipintu ini tak berhitung waktu, tak berhitung detik, tak berhitung jam. Tapi…..berhitung waktupun tampaknya bakal jadi terlalu sebentar untuk sebuah penantian bagimu. Entahlah aku yang terlalu sabar atau kau yang terlalu terlambat datang???!!!           

 Aku menantimu lama sekali disini. Sebenarnya segera pergi batalkan janji denganmu. Tidak, aku tidak mau tergolong orang yang tidak tepat janji. Aku seorang mukmin.

Kau tahu kenapa aku tetap menantimu walau entah kapan kita bertemu???? Karena kau selalu titip salam untukku dan kau selalu mendoakanku, kau juga sering membuatku bangun untuk sekedar menjawab salammu. Walau kadang hanya dilisan saja ternyata namaku tertaut dilidahmu. Lumayan, kau masih ingat padaku.  

Kau tahu kenapa aku tetap menunggumu walau entah kapan kau tepati janjimu untuk datang??? Karena ada yang bilang aku akan kedatangan orang-orang yang bisa membuatku bangga! Mereka orang-orang yang berteriak lantang memperjuangkan ketauhidan!!! Orang-orang yang menyebarkan kebaikan dan manfaat!!! Orang-orang baik penerus risalahku!!! Orang-orang kebanggaanku!!!Aku menantimu lamaaaaaaaaa sekali……., mujahid……. 

Aku membayangkan derap langkahmu menghentak berirama menguak seluruh alam semesta. Membayangkan wajah-wajah bercahaya yang menerangi alam ini. Wajah-wajah kebanggan yang aku rindukan teramat dalam……  

Aku lama sekali menanti, masa penuh kerinduan menantimu………. Mujahid…….. Kebanggaanku!!!!!!!!!!!! 

Dihari perjumpaan

 Pintu itu akan dibukaNya!!! Pintu pembatas perjumpaan kita!!! Sungguh saat-saat yang kunantikan….. Mujahid…….           

Aku sigap ‘berdiri’ menantimu dengan senyum penuh kerinduan. Aku siap memelukmu, aku siap menyambut kedatanganmu. Aku siap, wahai orang-orang kebanggaan!!!! Lihat, disini ada orang-orang yang pasti kau kenal!!! Ada Abu Bakar yang lemah lembut, ada Umar yang ditakuti syaiton, ada Utsman si kaya yang sangat dermawan, ada Ali sepupuku yang gagah dan cerdas, ada Bilal si suara indah pengumandang adzan, ada Sumayyah sang syahidah pertama, ada istriku yang tercinta Khodijah, ada Kholid yang perkasa, ada………. Ada banyak yang menantimu dengan senyum kerinduan dan hati bergejolak tak menentu……. Ada aku, Muhammad yang merindukanmu……

Derap langkahmu yang amat kunantikan mulai terdengar. Hati ini semakin membuncah karena harapan yang sangat. Aku rinduuuuuu…… sekali padamu……. Pada kalian………

Wahai…….. mengapa lambat langkahmu terasa????? Aku tak sabar menyambutmu!!!

Apa???!!! Kenapa derap langkah itu lemah sekali….. dan tidak terlihat terang seperti janjiNya!!! Apa yang terjadi denganmu wahai mujahid tercinta???? Ayo bersegeralah, ini aku Muhammad bin Abdullah menantimu penuh kerinduan….mengapa pekat sekali barisanmu???!!! Tiada nur???!!! Mengapa menunduk semua wajahmu??!!! Tidakkah kalian rindu padaku???!!! Ini aku…… Muhammad……..

Apa????!!!! Mengapa kalian berbelok kesana???!!! Wahai para du’at, disini barisan para du’at terdahulu!!! Bergabunglah dengan kami!!! Kami menantimu!!!!           

Jangan…….. Tolong jangan berbelok kesana…..bergabunglah bersama  kami!!!! Mengapa hanya sebagian kecil darimu yang bercahaya dan bergabung dengan kami. Mengapa kalian bergabung dengan barisan orang-orang hitam pekat???!!! Apakah kalian tak rindu padaku???? Lihat….lihat….. Abu Bakar menangis melihatmu disana….. Aku tahu kerinduannya sedalam rinduku pada kalian. Lihat ada Umar, Utsman, Ali, Khalid, Usamah, Zaid, ada……..yang semuanya merindukanmu. Ayo…….kemarilah para pejuang yang kucinta………. Apa yang menyebabkanmu berbaris dengan mereka??!!! Golongan pendurhaka.           

Apa???!!! Mujahidku aku lama menantimu…. Pertemuan seperti inikah yang kau dapatkan???!!! Aku ingin membanggakanmu pada semua makhluk yang pernah tercipta!!! Aku ingin malaikat-malaikat menggemakan namamu. Kalau kau cinta padaku, kenapa kau tidak membuatku bangga??? Aku ingin berjalan bersamamu menuju jannahNya, bersama menyaksikan saat-saat Ia membuka tabir penutup ‘Wajah’Nya…… Wajah kekasih tercinta…….Kuingin engkau ada dalam barisanku…. Barisan para nabi dan mukhlisin….Barisan orang-orang mukmin……           

Suaraku serak memilu, kerinduan dan harapan tak terpenuhi. Aku ingin membanggakanmu….Wahai yang kucinta….

Ummatii…ummatii…ummatii…


Mampukah Aku Menjadi Wanita Sholihah?

March 7, 2008

Mampukah aku menjadi seperti Siti Khatijah?
Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah
Hartanya diperjuangkan ke jalan fi sabilillah
Penawar hati kekasih Allah
Susah dan senang rela bersama…

Dapatkah ku didik jiwa seperti Siti Aishah?
Isteri Rasulullah yang bijak
Pendorong kesusahan dan penderitaan
Tiada sukar untuk dilaksanakan…

Mengalir air mataku
Melihat pegorbanan puteri solehah Siti Fatimah
Akur dalam setiap perintah
Taat dengan ayahnya, yang sentiasa berjuang
Tiada memiliki harta dunia
Layaklah dia sebagai wanita penghulu syurga…

Ketika aku marah
Inginku intip serpihan sabar
Dari catatan hidup Siti Sarah….

Tabah jiwaku
Setabah umi Nabi Ismail
Mengendong bayinya yang masih merah
Mencari air penghilang dahaga
Diterik padang pasir merak
Ditinggalkan suami akur tanpa bantah
Pengharapannya hanya pada Allah
Itulah wanita Siti Hajar….

Mampukah aku menjadi wanita solehah?
Mati dalam keunggulan iman
Bersinar indah, harum tersebar
Bagai wanginya pusara Masyitah…


Doa Ibu Sepanjang Jalan

January 31, 2008

Hidup bersama dengan orang tua tidaklah selamanya mulus-mulus saja, kadang ada kerikil-kerikil kecil dalam sandal, yang membuat langkah kita harus terhenti sejenak untuk membersihkan hati agar berprasangka baik kepada anak maupun kepada orang tua.

Tidak selamanya pendapat kita harus sama dengan keinginan orang tua, karena zaman yang berubah maupun kondisi lingkungan yang berbeda. Namun Hidup dengan orang tua memang banyak nilai positifnya, kita bisa berbagi kesenangan saat tanggal muda dengan makan bersama dengan berbagi sebagian dari gaji yang kita peroleh, dapat memberi perhatian lebih pada orang tua sekaligus sebagai pelindung buat orang tua di saat diperlukan dan merawatnya tatkala sakit.

Doa dan kasih sayang ibu adalah sepanjang masa, karena ibu selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya, untuk itu banyak-banyaklah berbuat baik kepada ibu, banyak bersedekah, bahagiakan Ia, doanya sangat di dengar Allah.